Hai purnama, parasmu begitu cantik. Lantas mengapa...kamu
enggan menampakkan diri malam tadi ? Kamu lebih memilih untuk tunduk malu,
berlindung di balik hitamnya awan malam yang gelap tanpa pancaran sinarmu. Malu
? kurasa tidak. Tidak ada alasan bagimu untuk malu.
Romantisme gelap malam berkurang karena
ketidakhadiranmu.
Kami, penjelajah malam mengharap hadirmu malam nanti.
Namun, sepertinya harapan hanya sekedar harapan jika melihat
cuaca sore ini. Titik titik air yang semakin lama semakin deras perlahan
membasahi tanah yang telah lama mengering.
Tak apa purnama, masih ada hari hari selanjutnya dan tentu
saja di bulan berikutnya untuk kita bertemu. Aku akan menunggu pertemuan itu.
-Aku, penjelajah malam yang sedang merindu purnama-