Sabtu, 15 November 2014

Merindu



Hai purnama, parasmu begitu cantik. Lantas mengapa...kamu enggan menampakkan diri malam tadi ? Kamu lebih memilih untuk tunduk malu, berlindung di balik hitamnya awan malam yang gelap tanpa pancaran sinarmu. Malu ? kurasa tidak. Tidak ada alasan bagimu untuk malu.
Romantisme gelap malam berkurang karena ketidakhadiranmu.
Kami, penjelajah malam mengharap hadirmu malam nanti.
Namun, sepertinya harapan hanya sekedar harapan jika melihat cuaca sore ini. Titik titik air yang semakin lama semakin deras perlahan membasahi tanah yang telah lama mengering.
Tak apa purnama, masih ada hari hari selanjutnya dan tentu saja di bulan berikutnya untuk kita bertemu. Aku akan menunggu pertemuan itu.

-Aku, penjelajah malam yang sedang merindu purnama-

Kita

Kita, mari lanjutkan hidup masing-masing. Kamu silakan lanjutkan hidupmu.
Dan aku...aku akan melanjutkan hidupku dengan baik, bahkan sangat baik.

Untuk segala hal, terimakasih.